Kamis, 25 Juli 2013

Mari Mengevaluasi Diri Sendiri

"Hanya cermin yang mampu membuatmu melihat dengan jelas siapa dirimu"

Objektif memang bagi kita. Penilaian orang lain memang terkadang lebih menenangkan hati ketimbang penilaian diri sendiri, dan jangan pernah merasa sedih dengan itu. Ketika hal tersebut harus terjadi, malah membuat kita menjadi lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Satu hal yang harus kita mengerti, kalau sebenarnya diri kita tidak pernah bisa objektif dalam urusan menilai diri sendiri. Selalu ada hal - hal yang dilebihkan ketika merasa kurang dan akan ada hal - hal yang semakin dilebihkan walaupun pada dasarnya telah berlebih.

Yaa.

Itulah diri kita. Jangan pernah menyesal dengan itu karena itu semua adalah sunnatullah. Karena manusia diciptakan Allah untuk saling mengoreksi. Itulah alasannya tidak akan pernah ada yang dapat bertahan hidup sendiri di dunia ini. Bahkan di lingkungan rumah sendiri. Ada sesuatu yang hilang ketika tidak ada yang mengingatkan kita.
Keseluruhannya adalah kondisi yang wajar dan tiap penilaian bagi kita harus senantiasa kita sikapi dengan tangan terbuka dan kepala dingin.

Penilaian yang objektif membuat kita lebih mawas diri. Tidak besar kepala dengan apa yang kita miliki. Karena semua kepunyaan kita tidak lain adalah titipan dari Allah. Belajarlah dari filosofi tukang parkir yang tidak pernah marah jika mobil mewah atau sepeda motor yang telah dijaganya harus diambil oleh pemiliknya. Perasaan lega karena telah menjalankan amanah dengan sebaiknya tanpa harus menggerutu ketika titipan itu diambil. Sadar bahwa ia hanya dititipi, bukan memiliki.

Semakin sering kita mengevaluasi diri kita dan meminta orang lain untuk mengevaluasi diri kita, maka semakin dekat pula kita dengan sikap rendah hati. Bukan sikap sombong yang biasanya menyertai orang - orang yang enggan bercermin pada dirinya. Sikap rendah hati itu sangat berbeda dengan sikap rendah diri, bahkan jauh sekali perbedaannya. Orang yang rendah hati justru akan memiliki derajat pengawasan yang tinggi. Ia mampu mengontrol emosi dirinya untuk lebih stabil. Mampu menahan amarah ketika saat itu bisa saja ia marah. Dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Serta selalu sadar akan ketidakberdayaan dirinya di hadapan penciptanya.

Momen ramadhan ini hendaknya dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang lunak dengan ego kita. Menjadikan kita lebih sadar siapa diri kita di hadapan Allah. Makhluk yang tidak ada upaya selain dengan izin Allah. Serta menjadikan diri kita lebih berhati - hati dalam bersikap. Bukan untuk meraih simpati dari manusia tetapi menarik simpati dari sang pencipta manusia.

Allah swt.

Semoga kita dapat berkata dengan fasih:
"Siapa diri kita?"
"Apa tujuan hidup kita?"
"Sudah Berbuat apa kita di kehidupan ini?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berpendapat dengan bijak dan jauhi kata-kata yang tidak berguna.