Manusia adalah makhluk inklusif. Terkadang memiliki pola fikir yang cenderung statis. Statis disini bukanlah dalam hal menentukan keputusan dari setiap permasalahan yang dialami. Karena manusia diciptakan dengan milyaran sel otak yang dapat dipakai secara maksimal untuk kreatif dalam berfikir.
Statis yang dimaksud, dalam cakupan hal - hal yang berkaitan dengan cara pandang manusia dalam menanggapi hasil akhir dari tiap kreatifitas yang diciptakan untuk menyelesaikan tiap problem yang di alaminya.
Terkadang kita sebagai manusia selalu berfikir sempit dalam menanggapi hasil akhir dari pencapaian yang kita upayakan sendiri. Banyak dari kita yang lebih "menuhankan" NALAR MANUSIAWI dalam menanggapi hasil akhir yang dicapai dalam proses kehidupan. Nalar yang tentunya sangat terbatas dalam melihat dengan jernih setiap poin - poin yang dihasilkan setelah proses - proses itu kita lalui.
Hal ini yang dapat menimbulkan sikap skeptis (Keraguan) dalam pola fikir kita. Sikap yang seharusnya tidak kita pelihara dan dikembang biakkan dalam pola fikir kita. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, sikap skeptis itu sering kita tujukan pada sang pencipta.
Sikap skeptis yang berlebihan cenderung dapat menggiring kita pada tindakan kufur nikmat. Dan ketika hal tersebut tidak dicegah, maka dampaknya akan membuat diri kita selalu merasa tidak puas dengan hasil - hasil yang telah kita capai.
Nalar manusiawi selalu mengarahkan kita pada hal - hal yang cenderung bersifat duniawi. Ketika kita tidak dapat mengelolanya dengan baik, maka nalar tersebut dapat menggiring kita ke arah syirik. Perbuatan yang tentunya tidak disukai oleh Allah. Dan syirik itu sering diawali dengan tidak mensyukuri apa yang telah diberikan Allah. Bukankah kita tahu bahwa diri kita tidak lebih dari makhluk yang tidak berdaya jika tanpa petunjukNya.
Banyak dari kita yang hanya mengedepankan pola fikir rasional. Kalimat - kalimat "apa mungkin", "sepertinya tidak bisa", "aku tidak percaya" dan kalimat - kalimat sejenisnya sering kali seliweran dibenak kita. Tidak percayakah kita dengan kuasaNya? Haruskah kita selalu berlogika dengan Allah. Menganggap bahwa semua yang kita alami adalah mutlak karena usaha kita tanpa ada campur tanganNya.
Tanamkan pada diri kita bahwa nalar kita tidak akan pernah sanggup menafsirkan kekuasaanNya. Secerdas apapun kita. Setinggi apapun jenjang pendidikan kita. Itulah mengapa orang - orang yang selalu mengedepankan nalar manusiawi cenderung lari kearah penyimpangan, baik yang disadari maupun tidak disadari. Manusia itu bergerak atas dasar "keinginan" penciptanya. Dengan usaha yang diperbuatnya sambil menunggu hasil terbaik dariNya atas apa yang telah diusahakan. Tidak ada yang punya kontrol penuh atas dirinya dan tidak ada yang pernah bisa mendikte tuhannya, berbuat sesuka hati, berfikir sesuka hati dan menelurkan pemikiran sesuka hati.
"KETIKA KITA MENUHANKAN NALAR MANUSIAWI, MAKA BERSIAP - SIAPLAH UNTUK KECEWA BERKEPANJANGAN DAN MERASA JAUH DARI SANG PENCIPTA. MERASA SELALU KEKURANGAN DAN TIDAK PERNAH BISA MENIKMATI KEHIDUPAN DENGAN SEMESTINYA"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berpendapat dengan bijak dan jauhi kata-kata yang tidak berguna.