Minggu, 17 Februari 2013

Di samping anak yang sukses, ada orang tua yang luar biasa...

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata seorang atlet lari dan seorang ayah yang setia menemani anaknya. Saya nukil dari tulisan seseorang dalam blognya yang saya edit tanpa menghilangkan esensi kisahnya.

Namanya Derek Redmond, seorang atlet pelari olimpiade asal Inggris yang punya tekad dan impian yang besar. Impian terbesarnya adalah meraih sebuah medali di ajang olimpiade, tak peduli apapun jenis medali nya. Sebelumnya derek sudah pernah ikut serta di ajang olimpiade pada tahun 1988 di Korea. Akan tetapi, harapannya untuk mendapatkan medali pupus seketika setelah cedera yang dialaminya sebelum ia bertanding di arena. Oleh sebab itu, kesempatan kali ini (Olimpiade Barcelona 1992) sangat berharga bagi derek untuk menggapai impiannya dan membuktikan kemampuannya berlari di lintasan 400 meter. Potensi yang ia bangun bersama ayahnya yang selalu setia mendampinginya ketika berlatih. Menyemangati dan membimbing anaknya untuk menggapai impiannya.
Saat pembuktian itupun tiba. Derek telah bersiap - siap di lintasan. Dengan semangat yang tinggi, seakan ia dapat melihat kemenangan berangsur angsur datang mendekat. Suara pistol berdentum menandakan perlombaan telah di mulai. Ayunan tangannya dan hentakan kakinya dengan cepat membawa Derek memimpin di depan mengalahkan seteru - seterunya. Hasil latihan yang tak sia - sia ia jalani selama ini telah membawanya saat itu sampai pada jarak meter ke 225. Kurang 175 meter lagi sebelum kakinya menyentuh garis finish. Sedikit lagi harapannya akan menjadi kenyataan. Namun ternyata, diluar dugaan. Hal yang tidak ia inginkan pun terjadi. Tiba - Tiba kaki nya terasa sangat sakit sekali. Lebih dari sekedar kram biasa. Tapi cedera hamstring di bagian kakinya. Wajahnya menampakkan rasa sakit yang sangat luar biasa. Derek pun tertatih di meter ke 225 tersebut. Tertatih,,, melambat,,, Kesakitan,,, dan akhirnya jatuh berlutut. Ia menangis. Tertunduk lesu. Seketika itu, perasaan terhempas menghampiri dirinya. Rasa kecewa menyelimuti hatinya. Rasa sakit yang luar biasa itu telah memupuskan harapan nya seketika.

Derek menyadarinya, apa yang diimpikannya telah raib. Hilang bersamaan dengan rasa sakit yang dideritanya. Dari kejauhan, di bangku penonton, sang ayah melihat anak nya tertatih - tatih pun segera berlari. Dengan tergesa - gesa ia menghampiri buah hatinya itu. Berharap tak terjadi apa - apa dengannya dan segera ingin menolongnya. Perasaan gundah yang dirasakan oleh seorang ayah.

Di tengah rasa sakit yang menyerangnya, tim medis dengan cekatan menghampiri Derek. Mencoba untuk memapahnya untuk menepi dan memberikan pertolongan pertama. Sementara itu banyak penonton yang melihatnya menilai bahwa derek telah gagal mewujudkan impiannya. Dua kesempatan terlewati dengan cedera yang di alaminya. Namun, sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Derek bangkit dan mencoba berlari. Tertatih menahan sakit sambil berkata, “Aku akan terus berlari, bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan perlombaan ini”, katanya.

Derek pun mengumpulkan semangat nya. Ditengah rasa sakit yang luar biasa, derek berhasil berdiri dan berlari kecil. Tim medis pun membiarkannya berlari karena semangatnya itu.

Di saat yang sama pula Jim Redmond -Ayah Derek- sudah sampai di tribun bawah. Jim berlari mendekat walaupun sempat dihalangi oleh petugas dilapangan. Ia menghampiri anaknya. Memapah sambil berkata, "Kamu tak perlu begini nak... Tak ada yang harus dibuktikan".

Jim terus memapah Derek dan Derek pun menangis miris sambil berkata, "Tidak ayah, biarkan aku menuntaskannya!".

Sang ayah dengan tegar menjawab, "Baik, kita akan menyelesaikannya bersama - sama". Mereka berdua pun terus berjalan dan berjalan. Dan akhirnya sampai di garis finish disambut dengan riuh tepuk tangan dari penonton di atas tribun. Enam puluh lima ribu pasang mata menyaksikan mereka, menyemangati mereka, bersorak bertepuktangan, dan sebagian menangis. Adegan ayah dan anak ini seketika menjadi adegan yang sangat berharga sekali.

Derek Redmond tak mendapat medali, bahkan ia didiskualifikasi dari perlombaan. Namun lihatlah komentar Ayahnya.

“Aku adalah ayah yang paling bangga sedunia!, Aku lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas.”

Dua tahun pasca perlombaan tersebut, dokter bedah yang menangani cedera yang diderita derek mengatakan kepada Derek bahwa Derek tak akan lagi dapat mewakili negaranya dalam perlombaan olahraga.

Namun hal yang mengejutkan kembali terjadi...

Kembali dengan semangat yang ditularkan ayahnya, Derek pun akhirnya kembali beraktivitas. Dengan cabang olahraga lain yaitu bola basket, ia ingin kembali mendapatkan jati dirinya dan akhirnya ia pun menjadi bagian dari timnas basket Inggris Raya. Derek pun mengirimkan foto diri nya dan timnya kepada dokter yang merawatnya dulu. Yang memvonisnya takkan mewakili negara lagi dalam perlombaan olahraga.


"Semangat yang ditularkan oleh orang tua. mampu membuat anaknya bangkit di tengah keterpurukannya. Kasih sayang orang tua mampu membawa motivasi bagi sang anak untuk bangkit. Melawan ketakutan hidup, menyingkirkan stigma negatif lingkungan pada dirinya dan memberikan perhatian yang terbaik untuk anaknya. Tak ada yang bisa menyamai kasih sayang orang tua pada anaknya. Kasih sayang yang dapat mengubah muram menjadi senyuman. Kasih sayang yang dapat merubah air mata menjadi canda tawa. Dan kasih sayang yang dapat merubah harapan menjadi kenyataan"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berpendapat dengan bijak dan jauhi kata-kata yang tidak berguna.